Kesehatan
Trending

Mengenal Jenis-Jenis Obat Tradisional yang Direkomendasikan

Banyak masyarakat yang panik di era pandemik covid-19 ini karena takut terpapar penyakit menular tersebut. Mereka berusaha mencari obat yang dapat menangkal atau menyembuhkannya. Tidak jarang mereka memburu berbagai obat tradisional yang diklaim mampu menyembuhkan Covid-19. Namun, sayangnya pengetahuan mereka seputar obat berbahan alami ini kebanyakan masih minim.

Asumsi-asumsi masyarakat terhadap obat tradisional begitu beragam. Ada yang sangat meyakini bahwa obat  mampu menyembuhkan, tetapi ada juga yang sebaliknya, tidak memercayainya. Oleh sebab itu pemahaman masyarakat tersebut perlu diluruskan.

Apa Itu Obat Tradisional?

Apa yang dimaksud dengan obat tradisional? Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, pada Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1, disebutkan, ”Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.”

Nah, sebaiknya masyarakat mengacu kepada definisi di atas dan tidak membuat definisi sendiri-sendiri karena ada konsekuensi hukumnya jika salah dalam menerapkannya. Selanjutnya menurut BPOM, terdapat tiga macam obat herbal di Indonesia, yaitu: 1) obat tradisional (jamu, obat tradisional impordan berlisensi); 2) Obat Herbal Terstandar (OHT), dan; 3) fitofarmaka.

Sesuai keputusan Kepala BPOM No HK.00.05.4.2411 tertanggal 17 Mei 2004 tentang Ketentuan pokok pengelompokan dan penandaan obat bahan alam Indonesia, terdapat tiga jenis logo, serta kriteria masing-masing jenisnya.

Jenis-jenis Obat Herbal Berdasarkan BPOM RI

1. Jamu

logo jamu berdasarkan BPOM RI
Logo jamu (sumber: J.Haryadi)

Jamu merupakan obat tradisional yang berbahan dasar dari tumbuhan yang telah diolah menjadi sebuah bentuk serbuk seduhan, pil, serta juga cairan langsung minum. Pada umumnya untuk obat tradisional tersebut dibuat dengan cara mengacu pada sebuah resep warisan leluhur.

Berdasarkan atas ketentuan kepala BPOM maka jamu ini tidak memerlukan sebuah pembuktian ilmiah sampai dengan uji klinis yang ada di laboratorium. Sebuah ramuan tradisional maka bisa dikatakan jamu apabila keamanan serta khasiatnya memang telah terbukti berdasarkan pengalaman langsung manusia selama ratusan tahun.

 

2. Obat Herbal Terstandar (OHT)

logo obat herbal terstandar atau OHT berdasarkan BPOM RI
Logo Obat Herbal Terstandar (OHT) – (Sumber: J.Haryadi)

Obat Herbal tTerstandar (OHT) merupakan obat tradisional yang memang terbuat dari sebuah ekstrak ataupun sari bahan alam, bisa berupa tanaman obat, sari binatang, ataupun mineral. Berbeda halnya dengan jamu yang memang biasanya telah dibuat dengan cara direbus, maka untuk cara pembuatan OHT ini sudah menggunakan teknologi maju dan terstandar.

Sama seperti produk PT Daun Teratai ini, sebuah produsen obat herbal yang berkantor di Bandung, juga masuk dalam kategori OHT. Isi produknya merupakan kombinasi antara bahan alami yang sudah teruji selama ratusan tahun dalam pengobatan tradisional Cina, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Obat tersebut juga telah diuji secara ilmiah di sebuah Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta yang mana meliputi akan uji ketoksikan dan juga uji khasiat. Obat dari produk Daun Teratai ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu Obat herbal terstandar oleh BPOM.

3. Fitofarmaka

logo obat fitofarmaka berdasarkan BPOM RI
Logo Fitofarmaka (sumber: J.Haryadi)

Sama seperti halnya OHT, maka produk fitofarmaka ini juga terbuat dari ekstrak ataupun sari bahan alam yang berupa tanaman, sari binatang ataupun mineral. Bedanya, fitofarmaka merupakan jenis obat bahan alam yang sangat efektivitas serta keamanannya sudah bisa disejajarkan dengan sebuah obat modern.

Setelah mengetahui penjelasan ini, sebaiknya masyarakat mulai jeli dan pandai dalam menentukan obat herbal seperti apa yang layak dikonsumsi, baik sebagai suplemen maupun untuk pengobatan berbagai penyakit.

***

Tags

Admin

Admin Jejak Digital Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close