Kesehatan
Trending

Mengenal Istilah Simplisia Dalam Pengobatan Herbal

Oleh: Edy Ratov Fexzu

Saat ini di Indonesia sudah banyak bertebaran informasi, baik berupa artikel maupun buku terkait hasil penelitian para ahli yang berhubungan dengan aneka tumbuhan obat atau obat herbal.  Istilah herbal sendiri biasanya dikaitkan dengan aneka tumbuhan perdu atau tumbuhan yang tak berkayu.

Secara umum penggunaan istilah herbal dalam dunia pengobatan berhubungan erat dengan aneka jenis tumbuhan yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang dapat dipakai sebagai obat (therapeutic). Misalnya tumbuhan mengkudu hutan (morinda citrifolia) yang mengandung moridin bisa dipakai sebagai bahan aktif anti kanker.

Obat Herbal

Pengertian obat herbal adalah obat yang berasal dari tumbuhan dan sudah diproses atau diekstrak sedemikian rupa sehingga menjadi serbuk, pil, atau cairan. Proses pembuatan obat herbal bebas dari pemakaian zat kimia sintetik .

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), khusus di Indonesia terdapat tiga macam obat herbal yaitu: 1) obat tradisional (jamu, obat tradisional impor, obat tradisional lisensi); 2) Obat Herbal Terstandarisasi (OHT), dan; 3) fitofarmaka dan farmasetika yang dapat berupa simplisia (bahan segar atau yang dikeringkan ) ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni berasal dari alam.

Ilustrasi obat herbal (sumber: Oncology Nursing Society)

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan yang berupa bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, dan galenik – sediaan yang dibuat dari bahan baku hewan atau tumbuhan yang diambil sarinya -atau campuran dari bahan tersebut yang sudah dipakai secara turun temurun untuk menyembuhkan penyakit tertentu.

Obat Herbal Terstandarisasi (OHT) adalah sediaan obat berbahan dasar alami yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik terhadap hewan percobaan, serta bahan bakunya telah distandarisasi.

Fitofarmaka adalah obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik pada hewan percobaan dan uji klinik pada manusia, serta bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi.

Farmasetika adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat menjadi bentuk tertentu sehingga siap dipakai sebagai obat, serta mempelajari perkembangan obat yang meliputi ilmu dan teknologi pembuatan obat dalam bentuk sediaan yang dapat digunakan dan diberikan kepada pasien. Penyediaan obat meliputi: 1) pengumpulan, pengenalan, pengawetan, dan pembakuan bahan-bahan obat; 2) seni peracikan obat, dan; 3) pembuatan sediaan farmasi.

Pada dasarnya, pengobatan tradisional dengan menggunakan obat herbal diterapkan secara holistik, yaitu tubuh manusia dipandang memiliki suatu sistem harmoni yang selalu seimbang. Jika terdapat salah satu bagian tubuh kita yang bermasalah maka akan timbul pula masalah pada bagian tubuh yang lainnya.

Cara obat herbal bekerja dengan memberi energi pada bagian organ tubuh dan kelenjar tertentu yang berfungsi membantu mengembalikan keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Dalam penerapannya, pengobatan tradisional yang menggunakan obat herbal bertujuan menjaga dan mempertahankan sistem imun tubuh untuk melawan bibit penyakit dari luar.

Kategori Tumbuhan Obat

Suatu tumbuhan dapat dikategorikan sebagai tumbuhan obat jika telah melewati beberapa uji dan penelitian. Bentuknya bisa berupa penelitian fisik, kimiawi, farmakologis, biologis, dan uji toksisitas (racun). Semua tumbuhan yang dianggap sebagai tumbuhan obat, tetapi tidak memenuhi ketentuan di atas karena bahan bakunya belum terstandarkan, mudah tercemar, higroskopis, dan voluminous terhadap berbagai mikroorganisme maka tumbuhan tersebut belum layak digunakan sebagai bahan obat yang dapat dikonsumsi.

Realitanya, ada beberapa obat dari tumbuhan yang hanya memiliki sedikit sekali kandungan zat aktifnya dan tidak menutup kemungkinan ada pula senyawa selain zat aktif yang ikut terkonsumsi pula. Zat tersebut tidak berkhasiat, tetapi bisa mengganggu aktivitas biologis tubuh.

Setiap tumbuhan memiliki jumlah dan jenis kandungan kimia berbeda dan beberapa zat kimia tertentu pada obat herbal dapat pula menimbulkan efek samping dan sifat toksik. Efek samping itu bisa disebabkan oleh zat itu sendiri maupun kontaminan (seperti pestisida dan zat pengotor) atau zat sintesis yang ditambahkan.

Mengenal Simplisia

Apakah Anda mengenal istilah simplisia? Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995).

Menurut Yopi Mesa Yudi, Direktur PT Daun Teratai yang memproduksi obat herbal Chang Sheuw Tian Ran ling Yao, banyak simplisia yang memiliki sifat adaptogen, salah satu contohnya adalah siberian ginseng. Namun, jika siberian ginseng dikomsumsi dengan jumlah banyak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya karena memicu naiknya tekanan darah. Hal ini bisa mengakibatkan pecahnya pembuluh darah atau bliding pada wanita.

simplisia
Ginseng Siberia salah satu simplisia yang memiliki sifat adaptogen (sumber: et-chem.com)

“Jadi simplisia yang memiliki sifat adaptogenic yang terbaik adalah simplisia yang tidak berdampak efek samping walau dikomsumsi dalam jumlah banyak. Simplisia jenis itulah yang sampai saat ini diburu dan di teliti di banyak negara maupun di FDA,” ungkap Yudi.

Yudi menjelaskan bahwa simplisia terbagi menjadi tiga, yaitu: simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia mineral. Simplisia nabati adalah simplisia berupa tumbuhan utuh, bagian dari tubuh tumbuhan atau eksudat dari tumbuhan. Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian dari tubuh hewan atau eksudat dari hewan. Simplisia mineral adalah simplisia berupa bahan mineral yang belum diolah. Simplisia dapat dibentuk melalui proses pengeringan, fermentasi, penyulingan, pengentalan eksudat, dan penyaringan sari air.

Simplisia Nabati

Simplisia nabati bisa berupa seluruh bagian tumbuhan, tetapi sering berupa bagian atau organ dari tumbuhan seperti kayu, batang, kulit batang, bagian bunga, akar, kulit akar, dan sebagainya. Selain itu terdapat juga eksudat – isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya – seperti gom, lateks, tragakanta, oleoresin, dan sebagainya.

Banyak sekali bahan nabati yang bisa dipakai sebagai obat, di antaranya berasal dari kulit tumbuhan seperti kulit buah delima yang sangat berkhasiat sebagai obat cacing. Contoh lainnya adalah akar tapak dara yang sangat ampuh dipakai sebagai obat diabetes dan obat kanker; daun saga sebagai obat sariawan dan obat batuk; bunga cengkeh yang bisa menghilangkan mual serta muntah; mahkota dewa yang sangat berkhasiat untuk mengobati asam urat, dan; biji kopi yang sangat berkhasiat sebagai penawar racun.

Secara umum simplisia tersebut dijadikan sebagai obat-obatan tradisional dalam sebuah bentuk larutan, serbuk, tablet ataupun kapsul. Banyak sekali keunggulan simplisia ini, di antaranya efek sampingnya relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan obat-obatan kimia.

Jadi, jika Anda ingin menggunakan simplisia ini sebagai obat herbal maka sebaiknya menggunakan sebuah simplisia dari kelompok obat yang sudah direkomendasikan oleh BPOM sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Khasiat dan keamanan obat herbal harus sudah teruji sebelum obat-obat tersebut mendapat izin edar. Oleh karena itu, telitilah sebelum membeli serta harus pintar dan selektif dalam mengonsumsi obat herbal.

***

Tags

Admin

Admin Jejak Digital Media.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close